Kamis, 03 Januari 2013

PIONIR

Lahirnya masih dianggap biasa karena memang belum menakjubkan. Namun, pelan-pelan akan menjadi kebanggaan tidak hanya bagi mereka yang setiap hari menghampiri. Kebanggaan bagi yang memandang, mendengar, bahkan bagi mereka yang pernah mencela keberadaannya. Seperti sumbu,,, hanya memancarkan kerlip saja, itu keadaannya sekarang. Tak mampu jadi penerang. Rapuh, seperti akar serabut yang menempel di tanah gembur. mudah tercabut, atau roboh, terkoyah angin. Kenakalan tak terindahkan, entah apalagi yang akan dilakukan boca-bocah itu esok. Setelah hari ini membuat mata sebab, wajah-wajah wibawa berkali-kali bertepuk dada dan menggelengkan kepala tanda heran dan keluh. “Luar biasa” hanya kata itu yang kemudia terlontar mewakili kesal yang seharusnya dengan kemarahan, tapi tidak. Sebab yang berdiri di depan bocah-bocah itu adalah orang-orang tangguh yang tak mudah berkeluh kesah, orang-orang sabar yang tak mudah tuangkan kemarahan dengan hentakan kata apalagi makian. Tidak... mereka adalah orang-orang yang jauh dari serpihan kasar. Kemudian terseok kabut yang tak lekang menghadang pandang, tertatih melewati hari menakutkan, tapi akan tetap bertahan, HARUS bertahan demi mimpi yang melambai menunggu bocah-bocah itu di ujung gemilangnya hari. Membangun senyum, menata asa, menyusun mozaik kata dalam lembar polos yang akan meloloskan diri dari hari samar,, bukan putih, bukan hitam, bukan perak, juga bukan abu-abu, tapi samar. Lepas,,, Wajah lugu itu akan terlepas dari hari tanpa rupa... Yakin,,, Dengan izin Allah Azza wa jalla bocah- bocah itu akan menjadi luar biasa karena berdiri di belakang orang-orang luar biasa. Kemudian tergores dalam catatan kecil dari sudut lereng sebagai PIONIR yang sedang dan akan melukiskan gambaran kebanggaan, bukan untuk menjadi thaghut atau otoriter. Dengan memulai mimpi dari dorongan dan tusukan tajam bernama “kebenaran” (Untuk engkau yang bertahan di lereng gunungku,, keluh kalian akan menjadi doa, tiap langkah yang kadang terasa berat akan mengubah mimpi dan menjadikan hari esok lebih baik) Thanks to All The dream begins with a teacher who believes in you, who tugs and pushes and leads you to the next plateau, sometimes poking you with a sharp stick called "truth." ~Dan Rather~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar