Jumat, 18 Maret 2011

Cengcorang


Membuka memory saat aku belum tahu dunia di balik bukitku yang indah...



nduk, nduk....
hmmmm... si kecil ingusan itu, seperti anak laki-laki saja...tak bosan dengan kebun-kebun yang membuatnya gatal, padahal ia akan tampak lebih cantik jika bermain dengan boneka seperti gadis-gadis kecil seusianya...
apa si yang dicari?? luka-luka kecil di tangan dan kakinya karena tergores rumput liar, ilalang, dan ucen (stowberi hutan) tak dipedulikannya. di lewatinya saja semak-semak itu. rambutnya yang kumal dan getah-getah di bajunya yang kusut juga di biarkan saja.. senyum nyengir dan mengerutkan dahi, buah markisa, onje, trembilung, parijatha dan buah-buah hutan habis di lahap... pantas saja kalau rasanya asam, buah-buah itu belum matang...

berjalan lagi... melewati jalan setapak dengan kaki telanjang, malompat menghindari batu terjal yang bisa membuatnya jatuh...
"ketemu.." mata si kecil bandel itu berbinar, di bawah pohon rindang, entah pohon apa? menaikan celana kumalnya ke atas pinggang, menyatukan kedua telapak tangannya dan menggosoknya cepat..
satu, dua, tiga... pohon itu di taklukan si kecil nakal.. sebentar saja ia sudah bertengger di atas pohon seperti seekor kera yang menghindari musuh.
Tangan kecilnya menarik cabang, pelan-pelan mengatupkan tangan kanannya dan...
"kena...." teriaknya... bibirnya tersenyum lebar, masih di atas pohon dengan girang ia berdendang, menyanyikan sebuah lagu untuk mahluk mungil di tangannya...
"ning nong ning gong iwak ayam... sego jagong ora doyan...." kemudian tawanya pecah saat mahluk unik di tangan kanannya bergerak-gerak seolah mengikuti alunan lagu yang di nyanyikannya...

kangen.... masa kecil yang indah... terimakasih cengcorang... kau membuat masa kecil itu berkesan, walaupun kau tak seindah kupu-kupu atau capung tapi kau unik, menarik dan...... aku suka... tidak... aku tidak sedang menggombal seperti kaum adam yang menyebalkan itu.. yang suka membuat para hawa berbunga-bunga, padahal kata-kata mereka hanya fiktif belaka... bukan itu, aku hanya mengungkapkan kekagumanku atas Kuasa Illahi yang menciptakan makhluk sepertimu...
sekarang aku disini... jauh... tak pernah melihatmu...

Oktober 2010... tiba-tiba kau muncul di sepion motor bututku... iya... itu mengesankan sekali... lihat... mata ini berkaca-kaca teringat masa ceria di kampung halaman sana... kau bukan cengcorang yang dulu ku pegang, bukan cengcorang yang dulu ku cari, tapi kau tetap cengcorang, yang karenamu aku rela jatuh dari pohon... tetap di sini ya, bertenggerlah di sepion jelek ini... temani aku sampai di tempat singgah....
19 maret 2010... aku masih di rel takdirku, di jalur yang Allah anugrahkan untukku.. melewati hari-hari dengan sejuta rasa dan suasana...
senang, sedih, girang, tawa, tangis, dan tak jarang biasa-biasa saja....
kau datang lagi cengcorang.... hahaha... senangnya... tetap di situ... di jendela kamarku... jangan kemana-mana.... temani aku menghabiskan hari...
hiks... tapi... aku jadi ingat masa itu lagi... saat aku masih cengeng... saat harus mencarimu di tepat yang tak dekat dari rumah, saat harus mencarimu walaupun membuat bapak dan ibu murka.. saat harus mencarimu walaupun membuatku terkenal dengan sebutan mbeling, dan membuka memoriku saat aku belum tahu dunia di balik bukitku yang indah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar