Kamis, 15 Oktober 2020

bermain setelah pulang sekolah

Udin pulang sekolah
saat pulang sekolah tiba-tiba hujan sangat lebat
udin berfikir bagaimana caranya agar tidak kehujanan.
lalu udin meminjam payung kepada ibu kantin, namun ibu kantin tidak punya payung
lalu udin meminta edo untuk bisa ikut pulang.
edo dengan senang hati memberi tumpangan pada udin.
edo dan udin pulang bersama sepayung berdua.
akhirnya udin pulang tidak kehujanan berkat bantuan edo.
sampai di rumah hujan reda,
ia melihat teman-temannya sedang bermain.
udin sangat ingin bermain dengan temannya padahal udin baru pulang sekolah dan masih memakai seragam.
udin ikut bermain tanpa ganti baju terlebih dahulu
baju seragam udin menjadi kotor,
udin di marahi ibunya.

Jumat, 09 Oktober 2020

SOAL EVALUASI

B. SOAL EVALUASI
I. Berilah tanda silang (x) pada jawaban yang benar!
1. Bu Ani memberi tugas kelompok pada para siswa, maka setiap siswa harus bisa saling ….
a. Bersaing
b. Mengejek
c. Kerja sama
2. Santi adalah siswa suka menolong di kelas, ia pun jadi siswa yang …. teman-temannya.
a. Dibenci
b. Disukai
c. Dijauhi
3. Agar hubungan kita dengan teman-teman di kelas tetap baik, maka sebaiknya kita selalu bersikap ….
a. Sopan
b. Egois
c. Sombong
4. Ali adalah teman sebangku Dika di kelas. Suatu hari Ali pensilnya ketinggalan. Sikap yang sebaiknya dilakukan Dika adalah ….
a. Mengejek Ali karena tidak membawa pensil
b. Menyuruh Ali segera pulang saja
c. Meminjami Ali dengan pensil yang dipunyai
5. Perhatikan gambar berikut, siti dan teman temanya sedang menceritakan asal sukunya, siti dari jawa, udin dari batak, dayu dari sunda, edo dari bali. Pernyataan berikut yang benar adalah
a. Siti dari batak
b. Dayu dari sunda
c. Udin dari bali
Tabel untuk soal nomor 6 – 8
Nama barang Harga
Buku tulis Rp. 3.000,00
Pensil Rp. 1.500,00
penggaris Rp. 1.500,00
rautan Rp. 1.000,00
6. Deni membeli 1 buah buku, 1 buah rautan pensil dan 1 buah penggaris.Maka jumlah uang yang harus Deni bayarkan adalah ….
a. Rp5.500,00
b. Rp6.500,00
c. Rp7.500,00
7. Alisa membeli 2 buah buku dan 2 buah pensil. Maka jumlah uang yang harus Alisa bayarkan adalah….
a. Rp10.000
b. Rp11.000,00
c. Rp 9.000,00
8. Ulfa membeli 1 buah buku, 2 buah rautan pensil dan 4 buah pensil.
Maka jumlah uang yang harus Ulfa bayarkan adalah ….
a. Rp13.000,00
b. Rp11.000,00
c. Rp15.000,00
9. Perhatikan gambar berikut, harga tisu gulung tersebut adalah…
a. tiga ribu rupiah
b. Tiga ratus rupian
c. Dua ribu rupiah
Rp. 3.000,00
10. Perhatikan gambar berikut, jika ibu membeli 3 buah sabun, maka berapa uang yang harus dibayarkan?
a. Rp. 4.000,00
b. Rp. 2.000,00
c. Rp. 6.000,00
Rp. 2.000,00
11. Lina adalah gadis yang selalu terlihat riang. Kata riang punya arti yang sama dengan kata….
a. Gembira
b. Cerewet
c. Tertawa
12. Udin selalu menghormati orang yang lebih tua di lingkungannya.
Kata menghormati punya arti yang sama dengan kata ….
a. Memaafkan
b. Menghargai
c. Menolong
13. Sebagai sesama manusia maka kita harus bisa saling tolong-menolong.
Kata tolong-menolong punya arti yang sama dengan kata ….
a. Kerja keras
b. Dukung-mendukung
c. Bantu-membantu
14. Dalam teks sumpah pemuda, kata tumpah darah memiliki arti..
a. Berkeluarga sedarah
b. Tanah kelahiran
c. Bersatu padu
15. Kata putra dan putri memiliki arti,
a. Siswa-siswa
b. Anak-anak
c. Orang-orang

Sabtu, 03 Oktober 2020

Kakek pahlawanku

ku pulang sekolah sambil menangis. Kesal sekali hatiku hari ini. Lagilagi teman- teman mengejekku. “Si hitam..., si hitam..!” begitu mereka selalu memanggilku. Kulitku memang hitam, rambutku juga hitam. Mau bagaimana lagi? Ayah dan ibuku juga berkulit hitam, bagaimana mungkin aku bisa berkulit putih? Awalnya aku hanya diam. Diam tak menjawab. Tetapi, teman-temanku tidak berhenti mengejekku. Semakin aku diam, semakin banyak teman yang ikut mengejek. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku diam..., dan diam..., menahan tangis, yang akhirnya tak tertahan lagi di perjalanan pulang. Sampai di depan rumah, ternyata ada kakek yang duduk di teras depan. Aku mengusap air mata, berusaha menyembunyikan tangisku. Tetapi, kakek selalu tahu. Ia selalu tahu ketika aku sedang sedih. Kakek hanya tersenyum dan memintaku duduk di sampingnya. Kakek diam tak bertanya, hanya mengusap punggungku lembut, menunggu tangisku reda. Akhirnya aku bercerita pada kakek. Aku menumpahkan kesal hatiku pada teman-teman yang mengejekku. Kakek tersenyum dan tersenyum lagi. Aku hampir saja bertambah kesal. Mengapa kakek tidak ikut marah pada teman- temanku? Setelah habis ceritaku, kakek berkata “Jangan memberatkan hati dengan masalah yang kecil. Coba cari akal untuk meringankan beban hatimu.” “Bagaimana caranya, Kek? Aku sudah diam.., dan diam tidak menanggapi. Tetapi, teman-temanku tidak berhenti mengejekku.” aku menjawab permintaan Kakek dengan cepat. “Besok, ketika teman-teman mengejekmu... ’Si hitam... Si hitam...!’ kamu jawab saja ‘tapi manis, ‘kan?” Kakek memberiku saran. Aku heran. Saran apa itu? Aku takut teman-teman akan semakin mengejekku. Tetapi, kakek meyakinkan aku. Ia malah memintaku melatihnya berulang-ulang. Sore itu, aku bisa tertawa. Biarlah. Aku coba saja besok. Mungkin saja Kakek benar, begitu pikirku. Ternyata, Kakek benar! Esok harinya, ketika teman-teman mengejekku lagi, aku langsung menjawab. Aku menjawab dengan kalimat yang sudah berulang kali aku latih. “Tapi maniiiiss, ‘kan?” Ajaib! Teman-temanku lalu diam termangu mendengar jawabanku. Lalu, salah seorang temanku menjawab pelan “Iya sih..., kamu memang hitam, tetapi memang maniis juga...” begitu katanya. Temanku yang lain lalu tertawa. Lalu, aku juga tertawa. Kami memang berteman dekat, walau kadangkadang kami lupa batas ketika bercanda. Benar kata Kakek! Tak perlu memberatkan hati dengan masalah yang kecil. Gunakan akal yang cerdik untuk meringankan beban hati. Kakek membelaku dengan caranya yang cerdik. Kakek mengajarku untuk membela diri dengan akal pikiranku. Terima kasih atas nasihatmu..., Kakek, Pahlawanku!

Minggu, 27 September 2020

CIRI-CIRI BENDA

Dalam permainan sederhana yaitu permainan perahu kertas kita memerlukan banyak benda.
Ada kertas, air, dan angin. Angin di butuhkan agar perahu kertas bisa berlayar.
kertas termasuk benda padat, yaitu benda yang bentuknya tetap, tidak mudah berubah.
air merupakan benda cair, yaitu bentuknya cair, mudah berubah atau tidak tetap menyesuaikan tempatnya.
sedangkan angin termasuk benda gas, terasa, tidak terlihat dan tidak dapat di sentuh. namun menempati ruangan.
benda gas memiliki bentuk yang berubah ubah.
contoh ketika kamu meniup balon, nah... di dalam balon ada benda gas.
benda gas di dalam balon akan menyerupai balon,
kalau balon bulat berarti benda gasnya bulat, kalau panjang berarti panjang.
agar lebih jelas simak video berikut

Sabtu, 26 September 2020

POLA PERKALIAN

PERHATIKAN POLA PERKALIAN BERIKUT
3 X 2 = 2 + 2 + 2 = 6
2 X 4 = 4 + 4 = 8
Selesaikan soal di bawah ini dengan benar, salin pada buku tulis masing-masing

PERKALIAN SEDERHANA

perhatikan cerita berikut
Beni membuat 2 perahu kertas
Tiur membuat 2 perahu kertas
Kemudian ayah juga membuat 2 perahu kertas lagi
jika digabungkan maka berapa jumlah perahu semuanya?
untuk dapat menjawab pertanyaan di atas perhatikan gambar berikut

BERMAIN PERAHU KERTAS

Beni sangat senang bermian perahu kertas.
Permainan ini sangatlah sederhana.
Satu lembar kertas bisa menghasilkas sebuah perahu.
Perahu yang telah di buat diapungkan dalam baskom berisi air.
Selain itu juga dapat diapungkan pada genangan air setelah hujan turu.
Perahu sapat berlayar dengan bantuan angin.
Beni sangat menyukai permainan ini.

Rabu, 10 Juni 2020

HERD IMMUNITY DAN KONSEKUENSI

Maju mundur saya mau menuliskan ini. Sudah sejak dua hari lalu. Takut disalah artikan. Karena teori dan pilihan skenario ini berat. Nampaknya gak ada pilihan lain. Kemarin saya gak memproduksi tulisan apa-apa. Diam. Banyak diskusi dengan seorang Mahasiswa Doktoral di Univ Pisa Italia. Diskusi juga dengan sahabat yang lagi nemenin istrinya S3 di Belanda. Bincang juga dengan Dokter yang lagi ambil Sub Spesialis di Kobe Jepang. Simpulannya sama : Herd Immunity. Sebelum saya menuliskan skenario ini. Saya ijin menyampaikan disclaimer dulu. Saya orang awam. Bukan ahli apa-apa. Latar belakang pendidikan sempet kuliah engineering. Sempat doank. Jadi tulisan saya boleh dikritik, karena saya bukan virolog, bukan juga dokter klinis, atau expert di bidang corona. Jadi dalam membaca tulisan saya, jangan begitu percaya. Tulisan orang awam. Biasa aja. Saya menulis ini karena dorongan banyak temen-temen. Saya menyadari punya kemampuan menulis. Maka niatnya membantu orang lain mudah faham. Maka saya menulis, agar kemudian kita memahami jalan keluar dari kabut gelap kedepan. Bombardir pertanyaannya selalu sama. Menurut ente kapan Rend ini berakhir? Vaksin bakalan bener ada atau nggak? Ini jalan keluarnya kira-kira bagaimana ya? Dan seterusnya. Pertanyaan itu yang membuat saya tenggelam dalam berbagai literatur ilmiah. Dalam dan luar negeri. Hingga website resmi corona virus yang berbahasa Italia itu saya coba terjemahkan satu-satu istilahnya di grafik. Capek memang. Pertanyaan itu pula yang menggiring kepala saya pada satu skenario paling mungkin di Indonesia : Herd Immunity. *** Agar kita bisa memahami tentang pilihan sulit ini, ijinkan saya membahas tentang apa yang dilakukan Wuhan, Korsel dan Italia. Versus dengan apa yang dilakukan Iran. Di Wuhan, Korsel dan Italia, skenario Lockdown terbukti berhasil. Karena memang warganya dan pemerintahnya punya kapasitas. Warganya punya tabungan untuk hidup kedepan. Warganya teredukasi. Hampir semua connected. Jadi komunikasi keputusan negara mudah. Beda kayak di negeri ini, masih ada yang belum terjangkau internet. Adapun punya smartphone dan internet, aplikasinya joget. Gak bisa akses info ilmiah. Pemerintah Cina dan Italia juga punya sumber dana. Ngasih diskon. Ngasih bantuan. Menjaga supply pangan. Bukan berarti Indonesia gak punya dana. Ada. Tapi gak bisa untuk segini banyak orang. Konsep lockdown ini seperti "menghapus file". Anda seperti pukul nyamuk satu-satu. Virus ini makhluk yang butuh inang. Butuh reservoir untuk hidup. Butuh agen. Butuh nempel di makhluk hidup agar dia bisa eksis. Maka virus tanpa inang akan mati. Tanpa menempel di inang ia akan selesai. Begitu teorinya. Waktu bertahan tanpa inang berbeda pendapat antar ilmuwan. Gak akan saya bahas. Wuhan, Korsel, Italia, menerapkan pola ini : virus pada manusia dipaksa mati dengan anti bodi. Virus diluar tubuh manusia dibiarkan mati, hilang, atau dibersihkan. Yang positif di isolasi. Yang sakit berat di rawat. Yang nampak tidak bergejala juga di test massal. Untuk dicari yang positif yang mana. Begitu positif, di isolasi lagi. Kenapa? Karena menjadi carrier tanpa gejala inilah yang menjadi biang gak selesainya sebaran kasus. Maka Wuhan dan Italia sangat ketat dengan lockdown. Kalo warga korsel, tanpa disuruh pun sudah teratur lockdown. Mirip Jepang. Mereka tahan semua orang didalam rumah. Karena andai yang didalam rumah gak ditest, virus akan mengalami masa inkubasi hingga 14 hari. Bakal mati sendiri. Apalagi Wuhan menjalani lockdown 2 bulan. Wuhan secara strategi sebenarnya menahan interaksi sosial. Lalu membiarkan yang sebenarnya positif walau tidak dites memiliki antibodi dengan sendirinya. Begitu juga yang dilakukan di Italia. Di lock. Diberesin satu demi satu. Hingga targetnya zero casses per day seperti Wuhan. Secara garis bessr begitu. Hingga Wuhan hari ini memulangkan dokter-dokternya. Menutup rumah sakit darurat. Dan sudah 3 hari ini zero case covid-19. Mereka sudah statement menang atas corona. Strateginya begitu. Total lockdown. Semua di isolasi di rumah. Disiplin. Rumus ini akan buyar kalo yang satu nau di isolasi sementara yang lain masih keluyuran. Bubar dah skema lockdown. *** Sekarang kita ke negeri ini, kita buka mata dan hati ya. Saya sampaikan ini murni pendapat atas masalah kemanusiaan. Sentimen politik kita bahas nanti. Bukan saatnya. Begini... Ramai di linimasa ini, sahabat dominan menyerukan lockdown. Menganggap bahwa skenario Wuhan dan Italia bisa kita lakukan. Dari apa yang saya lihat hari ini - semoga saya salah - Total Lockdown bukan skenario kita. Kecuali cuma slowdown soci distancing, bubarin keramaian. Itu masih bisa. Tapi kalo ngekep warga di rumah. Hmmm.. Susah. Lockdown itu membutuhkan jumlah petugas yang cukup. Di Italia, polisi mondar-mandir, yang keluar tanpa keperluan didenda ratusan euro. Cek aja linimasa. Banyak beritanya. Itu aja sudah pake polisi, terjadi puluhan ribu pelanggaran. Masih aja keluar. Lalu kita lihat di Indonesia. Jelas sulit Bisa dibayangkan polisi kita nahan masyarakat gak keluar rumah. yang keluar di denda. Ditilang aja ngamuk kok. Apalagi didenda untuk sekedar keluar rumah. Wah.. Chaos. Belum lagi, di Wuhan dan Italia, mereka punya solusi, kalo diam di rumah, stay at home, work for home, makan mereka terjamin. Di Indonesia rada repot. Di kita, kalo gak keluar rumah, makannya gimana? Seriusan ini. Saya nulis begini bukan berarti besok Anda langsung ngumpul-ngumpul dan keluar rumah. Arah tulisan says gak kesitu. Saya cuma ingin buka mata kita semua. Lockdown kayak Wuhan dan Itali, untuk negeri dengan sosio kultur kayak Indonesia. Gak bisa. Rame kan di berita, udah jelas jadi suspect, malah bantu-bantu nikahan tetangga. Ditelpon sama dinkes untuk ngontrol, malah ngakunya di rumah, padahal jalan-jalan. Itu cuma ngisolasi 1 orang aja, kita gak sanggup lho. Asli. Apalagi 271 juta jiwa di hold. Atau Jabodetabek aja deh, 25 jutaan warga, di hold gak boleh keluar rumah kompak. Gak bisa. Beneran. Menutup event-event perkumpulan insyaAllah bisa. Meniadakan gathering ibadah bisa. InsyaAllah. Tapi kalo total lockdown. Apalagi bahasanya lockdown antar daerah. Nampak resiko sosialnya besar dan ini juga yang kayaknya ada di fikiran Pak Jokowi. Maka bisa dilihat di Iran. Mereka masih terus aktivitas. Adanya yang terjangkit covid-19 dan sakit berat, ya mereka hadapi. Nanti saya jelaskan di tulisan berikut, kenapa Iran begitu. *** Keadaan diatas membuat skenario "pukul nyamuk satu-satu" gak mungkin jalan. Kita gak bisa paksa warga didalam rumah. Kita gak bisa membersihkan pergerakan. Akan tetap terus terjadi pergerakan massa, walau kecil. Padahal yang bergerak bisa jadi sudah positif covid-19 namun tanpa gejala apa-apa. Ini yang membuat skenario lockdown buyar. Belum lagi dengan slowdown nya Jakarta. Dan status Jakarta menjadi episenter pendemi. Membuat banyak warga jabodetabek mudik ke kampung halaman. Panah-panah merah sudah menyebar ke daerah. Ini seperti anak-anak muda Lombardi yang mudik ke Italia selatan. Persis. Intinya skenario Lockdown sulit jalan. Lalu bagaimana mengakhiri wabah ini? Satu dua expert sudah mulai bicara. Walau malu-malu. Kecuali menteri pertahanan Israel yang pada akhirnya bicara tentang ini juga : Herd Immunity. Termasuk PM Inggris Pak Borris. Begini, Virus yang menjangkiti tubuh akan diserang oleh antibodi ini. Inilah tafakur mendalam kita hari ini, antibodi kita menyusun bahan baku serangan untuk virus covid-19. Khusus untuk si dia saja. Maka muncul angka 14 harian, atau kurang, dimana antibodi kita menyusun serangan ke covid. Hingga antibodi yang khusus dibentuk untuk covid terbentuk. Maka setelah terbentuk antibodi alami covid, tubuh kita kebal covid. Secara teori, tidak lagi bisa dijangkiti covid-19. Mudah-mudahan teorinya bener. Nah, Ketika sudah cukup banyak masyarakat yang terjangkiti covid-19, akan terbentuk "sekawanan" manusia yang sudah kebal covid-19. Dan disaat itulah terbentuk namanya Kekebalan Kawanan : Herd Immunity. Coba deh, buka video-video yang viral tentang melandaikan kurva. Kan disitu sudah diberitahu, bahwa pada akhirnya semua orang akan terjangkit. Tinggal kecepatan lonjakan yang gejala berat saja. Itu yang diperlambat. Ikhtiar social diatancing kita akan kesitu arahnya. Melandaikan kurva. Memberikan waktu bagi paramedis untuk melayani yang sakit berat. Jangan sampai okupansi rumah sakit gak cukup. Maka jangan sampai yang positif covid dan gejala berat jumlahnya puluhan ribu atas satu waktu. Teori Herd Community ini berat untuk disampaikan. Secara ilmiah, 60%-70% masyarakat akan terjangkit. Dan kemudian mayoritas yang bertahan akan membentuk antibodi alami. Di Wuhan, mungkin gak butuh sampai 60-70 persen. Karena mereka total lockdown. Mereka sampai semprot kota pake disinfektan 2 hari sekali. memang targetnya bunuh virus. Bisa jadi juga mereka sudah nemu vaksin. Sudah di shot ke sebagian besar populasi. Itu juga bikin Herd Immunity. Italia juga nampak cara memeranginya sama. Total Lockdown. Namun lihatlah Iran, mereka nampaknya pake teori ini, biarkan semua terpapar pada akhirnya. Mereka gak punya kapasitas untuk lockdown. Yang ada tinggal gali kuburan massal di Qom. Ini fakta. Nampak Iran sudah memahami tracknya. Berharap Her Immunity. Iran menjadi parah karena adanya embargo dari US, yang membuat alat-alat medis kurang. Iran sampai mau minjem ke IMF untuk perawatan. Skenario paparan maksimal memang butuh persiapan. Walau skenario terpapar xepat tidak kita pilih, melihat kondisi negeri dan perilakunya, inilah yang sebenarnya akan kita hadapi. ** Saya secara pribadi berharap, slowdown dan social distancing yang kita lakukan sekarang akan memperlambat penularan, memberikan waktu pada fasilitas kesehatan untuk bersiap. Tapi tidak bisa mencegah penularan pada semua. Adapun waktu yang terus berjalan, semoga bisa menjadi buying time untuk menunggu vaksin. Sampai di titik ini, Anda pembaca mungkin merasa saya mendoakan yang buruk untuk negeri. Sama sekali tidak. Ini ulasan ilmiah dari studi literatur saja. Bahwa begitulah wabah berakhir. Hampir semua orang terjangkit dan membentuk antibodi alami. Semoga sampai disini hati tetap dingin dan optimis. Karena ini baru setengah tulisan. Berikutnya saya akan menuliskan tentang konsekuensinya. *** Target saya menulis ini adalah... agar kita sebagai anak bangsa bisa memitigasi konsekuensinya. Karena inilah yang saya bisa rasakan dan simpulkan. Walau mudah-mudahan salah. Her Immunity ini skenario negeri kita. Maka konsekuensi pertama adalah "bersiap terpapar" Slowdown di rumah ini harus menjadikan kita pribadi yang sehat jasmani dan batin. Karena paparannya cepat atau lambat akan segera datang. Apalagi si covid ini rada bandel, cepet nular. Makan yang bergizi , perkuat imunitas tubuh, istirahat yang cukup, olahraga gerakkan tubuh, bantu tubuh menyiapkan metabolisme yang optimum, untuk memproduksi antibodi covid secara mandiri. Untuk urusan ini sudah banyak yang menuliskannya. Saya gak mau nulis ulang. Silakan cari sendiri. Termasuk persiapan batin, mulailah memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain, saling mendoakan. Kita perlu batin yang sehat untuk masa-masa ekstrim seperti ini. *** Konsekuensi kedua adalah "mayoritas jadi carrier" Dengan demografi anak negeri yang penuh anak muda. Secara statistik, masyarakat kita akan mengalami gejala ringan di anak muda. Bahkan tak bergejala. Maka anak muda negeri ini akan dominan menjadi cariier virus. Ini juga yang harusnya diedukasi mendalam. Bahwa positif covid-19 bukan seperti positif HIV. Ini ada diberita, begitu positif covid-19 malah kabur. Salah faham kayaknya. Butuh diedukasi. Dengan simpulan ini, saya menyarankan bangun gerakan pisahkan manula dan anak muda. untuk usia 50 tahun keatas, jangan sampai berbaur dengan yang muda. Inget gak, 60-70% harus terpapar virus agar terbentuk Herd Immunity. Kita siasati saja. 60% yang terjangkit itu biar anak muda saja. Kemungkinan illnes beratnya kecil. Dibawah 10%. Begitu kata lietaratur ya. Cross cek aja. Gak maksud sok tau. Ini juga termasuk pada resiko kerja. Untuk di rumah sakit misalnya. Dokter senior, konsulen senior, mundur aja ke belakang meja. Kontrol dari jauh. Komando dari meja. Jadi penasehat dan pengarah ke dokter-dokter yang under 50. Seriusan ini. Bisa gak kira-kira. Atau etis gak kira-kira. Karena kalo pola paparan mayoritas ini kena ke generasi elder negeri ini, ini yang membuat tingkat kematian tinggi seperti Italia. Pada orang tua, pada masayikh itu terdapat kemuliaan dan kebaikan, kita sangat perlu keberadaan mereka untuk tetap sehat dan mendoakan kita. Mengarahkan. Dan menasehati. Baca data yang jujur. China 2M populasi, Italia 60 juta Populasi. Angka kematian di Italia sudah melebihi Cina akan covid. Ini karena para manula gak segera dipisahkan dengan yang muda. *** Konsekuensi ketiga "Siapkan Fasilitas Medis" Angka ilmiahnya sudah ada. 60% Terjangkit. Mayoritas tanpa gejala. 20% gejala ringan. Bisa isolasi mandiri. 10% gejala berat yang dimana sepertiganya diprediksi meninggal. Maka muncul angka kematian 3%. Coba simulasi aja. Gak nakut-nakutin, agar kita bersiap. Barusan saya sudah ketik simulasi angkanya. Tapi saya gak tega. Jadi saya hapus lagi. Hitung saja sendiri ya. Intinya,.... Jangan sampai kayak Italia hari ini, kaget gak ada tempat rawat. Padahal Italia ini negeri yang kesehatan gratis. Kesehatan ini jadi nomor 1 perhatian. Ujian memang. Kita doakan segera berlalu. Akhirnya sibuk bangun tenda darurat. Sibuk nyari gedung untuk rumah sakit. Full sampe lorong-lorong kepake semua. Kita jangan sampai kaget di akhir. Mumpung ada waktu, siapin aja dari sekarang. Jangan nunggu intruksi pemerintah, sediakan aja secara swadaya dari arus bawah. Siapin bangunannnya. Bed nya. Pelan-pelan. Dengan skenario terpapar 60% populasi, lebih baik mumpung ada waktu kita bersiap. Karena jumlah penduduk kita 4,5 kali Italia. Beneran. Saya sudah teriak-teriak berkali-kali, kalo pendekatan pencegahan/preventif gak bisa, ya sudah fokus pengobatan. Maka saya membaca langkah Pak Jokowi, beliau sebenernya menuju pada Herd Immunity. "5 juta obat sudah dibeli" Ini sudah langkah pengobatan. Adapun ceramah tentang pembatasan gerak, hanya normatif. "Mohon pada pemerintah daerah untuk memperhatikan prosedur kesehatan" Tafsirnya luas. Tapi kalo niat ngobatin, jelas, beliau impor obat. Jelas sudah arahnya. Wisma Atlet towernya akan dijadikan rumah sakit darurat. Ada pulau yang disiapkan jadi pulai isolasi. Arah pemerintah ini nampak bersiap mengobati dan merawat ketimbang melockdown. Karena perhitungannya bisa jadi kita banyak anak muda, memang yang diharapkan antibodi alami anak negeri yang bekerja. Lalu selamatkan yang elder. Maka konsekuensi ketiga ini perlu kita dalami. Satu masjid satu rumah sakit darurat. Pak Erick Tohir saja sudah calling relawan. Oprec relawan secara nasional. Ndak lama lagi akan banyak program wakaf dan infaq alat medis. Memang kesitu arahnya. Virus akan memapar ke mayoritas anak bangsa. Biarkan Herd Immunity terbentuk dengan sendirinya. Yang perlawanan antibodinya tanpa gejala ya alhamdulillah. Yang sakit ringan-sedang bisa isolasi mandiri di rumah. Semoga rumahnya ada. repot kalo yg gak punya rumah, kamarnya gak cukup, perlu ada rumah isolasi tambahan. Yang sakit berat, semoga fasilitas kesehatan kita bisa obati dan tanggulangi. Dan semoga angka kematian rendah. Angka 8,5% death rate itu karena di kita belum banyak yang test covid. Kasihan Pak Jokowi, jadi bulan-bulanan data yang kurang representatif. Saya yakin death rate kita kecil. Coba saja nanti mass rapid test. Akan banyak yang positif tanpa gejala. dan death rate akan kecil sekali. *** Panjang ya.. Saya juga sampe keram ini nulisnya. Maaf. Semoga Herd Immunity segera terbentuk untuk negeri ini. Segera kita beraktifitas lagi. Segera kita belanja lagi ke kaki lima, gerakkan ekonomi UMKM. Segera kita wisata domestik lagi, lakukan economic transfer antar daerah. Segera kita produksi apa-apa yang gak di impor lagi. Mumpung negeri orang lagi restart pabrik, mumpung gak ada yang berani ke Indonesia. Segera kita bangun negeri, dunia lagi de-globalisasi. Sekat-sekar antar negara makin keras dan tebal. Bagus aja itu mah... Kesempatan kita urus diri kita sendiri. Nanam bawang putih sendiri. Nanam padi sendiri. Bikin baju sendiri. Wassalam import. Ahlan wa sahlan kemandirian negeri. Segeralah terbentuk wahai Herd Immunitiy. URS *** Tulisan ini adalah bentuk muhasabah keras untuk anak negeri, jika kita tidak bisa se serius Wuhan dan Italia, maka skenarionya akan menuju Herd Immunity dengan alami. WARNING : Yang mengcopy tulisan saya ke grup-grup WA, mohon sertakan link source utama, agar para pembaca dapat melihat dialektika diskusi di kolom komentar. Nampak akan ramai. A'udzubillahiminsy syaitonirrojim #AllahMahaKuat #MomenKebangkitanNegeri #HerdImmunity https://m.facebook.com/rendykeke/posts/2663926657224902

Minggu, 22 Maret 2020

CORONA

Liat postingan beberapa hari ini, Ada yang panik luar biasa koleksi masker dan hand sanitizer, Ada yg mendadak jd ahli kesehatan ngeshare2 info sehat (lumayan nambah info saya yg buta kesehatan) Jadi Ustazd ,ustazdah ngepos kutipan ayat2 Al qur'an (Alhmdulillah nambah wawasan saya yg tak byk tau agama) Ada yg jadi wartawan ngeshare brita2 terkini (mending lah... Aku yg lg puasa g nonton TV jd g kudet) Ada yg patuh sendika dawuh sama pemerintah diem d rumah, Ada yang santuyyyy jalan2 kemana mau,ngajak anak2 liburan dan bla bla bla (oke mungkin ini jenis org yg kebal,atau ngabisin duit dr pada duitnya buat bantalan d rumah) Dan yang paling lucuu.... Ada yang nggeruntu sendiri liat orang pada liburan,liat orang pada berkerumun.... Bilang g patuh pemerintah lah,bilang menyepelekan lah ini lah itu lah.... Hmmmmm banyak kepala banyak isi, G mungkin orang sedunia melakukan aktifitas yg sama atau patuh pada satu aturan yg sama kecuali penduduk bumi ini hasil kloningan...πŸ™€πŸ™€ Sooooo Nikmati aja suasana ini, Yg ngeshare info sehat biarin Yg ngeshare tausiyah alhmdulillah Yg ngeshare berita g pa2 (asal g berita HOAX) Yg liburan ya ben lah.... (Umur g ada yg tau kalo tiba2 mati kn udah liburan duluan)πŸ™ŠπŸ™Š Yang penting ttep saling mendoakan. Semoga segera berlalu musibah bumi ini. Ada byk hikmah yg Allah sertakan, Dan Yakinnn Akan ada terang setelah gelap, Ada kemudahan setelah kesulitan. Be positif Be healthy 😍😍😍 Salam sehat😘😘

Senin, 16 Maret 2020

Bahagianya Petani

Bahagianya petani adalah saat benih yang ia tabur bersemi,bisa d tanam atau tidak urusan nanti.. Bahagianya petani adalah saat menanam bibit dengan rapi,tumbuh atau tidak tunggu saja, tak bisa diterka.... Bahagianya petani adalah saat melihat tanamanya subur,berbuah atau tidak lihat esok hari.. Bahagianya petani adalah saat tanamanya berbuah lebat,senyumnya menghampiri lumbung-lumbung yang siap di isi hasil bumi,, Bahagianya petani adalah saat bisa menuai,soal harga biarlah ikuti standar yg ada.. Bahagianya petani adalah saat menjual hasilnya, bisakah penutupi kebutuhan???ah... Tak perlu d risaukan. Bahagianya petani adalah.... saat bisa kembali menyemai benih-benih, Kembali menikmati proses panjang untuk sampai bisa mengisi lumbung-lumbug lagi.... Bahagianya petani adalah sabarnya yang luar biasa.. Syukurnya yang tiada tara,, Itulah knp di cukupkan segala hajatnya, Kemauan dan harapan yang teramat sangat sederhana,, Proud of you bapak dan mbok tani 😍😍😘😘