Selasa, 28 Februari 2012

udan woh

Pagi yang cerah, semua penghuni kaki gunung berduyun-duyun menuju tempat mencari nafkah. berbekal cangkul, sabit, dan macam alat pertanian lain, melangkah dengan yakin dan penuh harap pada hasil kebun.

masih teramat dini ketika langit yang biru cerah berubah jadi gelap pekat. Hanya dalam hitungan menit si pekat menjatuhkan segala isi dari ketinggian sekian meter.. dan byur........ lebat, deras, air tercurah tanpa jeda.

Ada yang berbeda dengan biasanya, hujan pagi ini terasa betul di atap rumah, bunyinya tak lagi tik, tik, tik. Beda sekali, sebab hujan pagi ini disertai butiran es kecil, penduduk desa menyebutnya “udan woh” hujan yang berbuah, pantas dikatakan buah karena memang seperti buah-buah air yang jatuh bersama hujan.

Ini adalah “udan woh” pertama yang aku lihat setelah belasan tahun lamanya, dulu... dulu sekali saat aku masih berseragam merah putih, sering melihat, bahkan menikmati. Membawa ”tampah” sebagai penadah butiran es kecil, dan dengan girang memakan butiran-butiran itu.

Adalah hal yang teramat menyenangkan ketika bisa berlari kian kemari mencari buah hujan itu, mengumpulkan dan memakannya. Anugrah luar biasa untuk penduduk lereng gunung. Tapi... ada setumpuk kekhawatitran di sela tawa. Gunung yang sudah tua, dengan pohon yang hampir tiap hari di tebang, untuk menopang hidup agar tetap bisa mengisi panci atau ditebang sekedar untuk menghangatkan tubuh. Berapa tahun lagi bisa bertahan? dengan guyuran sederas ini??? jika pepohonan penadah air terus direnggut.

Wallahu ‘alam... hanya Allah yang tahu, Bersama hujan Allah menurunkan rizki hingga kedatangannya patut disyukuri, bahkan salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah dikala hujan. Bersyukur.... Memuji keagunganNYA, dengan harap akan ada kebaikan yang mengalir setelah hujan mereda.

Harapan itu lumrah. Namun, apa pantas,,, hanya berharap tapi tidak diiringi tingkah yang mampu memunculkan harapan itu??? tentu saja tidak... berharap dan pasrah itu untuk membuntuti tingkah. Seberapa besar hal yang di perbuat untuk mengubah keadaan. Di luar kuasa, manusia tak dapat berbuat apa-apa. tapi setidaknya berusaha.... sebab Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum jika ia tak berusaha merubahnya.

Menjaga hutan tetap lestari adalah salah satu usaha agar alam tak murka, hanya menjaga bukan memunculkan atau membuat hutan itu ada, tapi “menjaga” akan menjadi hal paling sulit ketika kesadaran akan pentingnya hutan dan betapa bahayanya hutan gundul tak ada di benak orang-orang masa kini yang katanya mereka adalah “orang modern”.

“udan woh” akan ada lagi dan terus ada, ketinggian gunung yang hampir 2000 m (< > 1800m) diatas permukaan membuat suhu teramat rendah dan hujanpun membeku,,
Kelak akan ada kegirangan saat meninkmati anugrah itu, indahnya “udah woh” menjadi pemandangan menakjubkan, tanpa diiringi kekhawatiran akan rentanya lereng gunung yang sewaktu-waktu merosot, menimbun orang-orang tak berdaya,,,
“udan woh” Penduduk kaki gunung akan girang menyaksikan kedatanganmu. Datanglah bersama sejuta kebaikan untuk kami “penghuni kaki gunung”


Gerlang, 26 Februari 2012

1 komentar:

  1. Bunyinya agak menakutkan kalau hujan seperti itu...nyaris seperti batu yang berjatuhan di atap seng rumah..."klothak"... lama sekali tidak melihat hujan seperti itu, tapi aku tidak pernah keluar untuk memungutnya, lebih suka memandangnya meleleh di atap seng yang lebuh hangat...

    BalasHapus